Diposting oleh otomotif | 22.28

Pengatur Timing Pengapian Digital dan Analog



CDI Varro. Ada analog dan digital

OTOMOTIFNET - CDI atau pengatur timing pengapian dari dulu terbagi dalam dua katagori. Yaitu, CDI analog dan digital. CDI analog banyak diterapkan di motor tempo doeloe. Sedang yang digital, sudah banyak diaplikasi di motor baru sekitar tahun 2000-an.

CDI analog di dalamnya terdapat IC atau chip yang isinya sudah diprogram oleh sang pembuatnya. “Jadi, pabrik CDI hanya tinggal memasangnya,” jelas Chris Tomas, pemilik merek CDI Varro.

CDI analog bisa dilihat pada Shogun 110 atau punya Supra X 100. Tidak punya limiter. “Programnya masih bisa dieksploitasi. Misalnya arus diperbesar supaya bunga api lebih gede,” jelas Tomas yang juga bos Suzuki Junior Motor Sport.

Berbeda dengan CDI digital. Biasanya sang pembuat IC atau chip menjualnya dengan program kosong. Nantinya isi program ditentukan oleh pabrik CDI. Jadi, satu jenis chip bisa dipakai untuk semua jenis motor. Hanya timing pengapian yang diseting berbeda. Bahkan limiter juga bisa ikut diprogram.


CDI Shogun lama masih analog
CDI digital pertama bisa diketahui pada CDI Smash yang sudah ada limiternya. Dari segi kemajuan jelas selangkah lebih maju digital. Meski di Smash ada limiter, itu soal program yang dimainkan. Bisa saja limiter dilepas dengan cara memprogram dari awal.

Namun CDI digital susah untuk diutak-atik. Terutama untuk mengekploitasinya. Soalnya isi program tidak bisa dipengaruhi oleh besarnya arus listrik yang masuk. Mekanik awam CDI akan susah modifikasi untuk mengubah timing pengapian.

Nah, dari kedua CDI itu timbul pertanyaan. CDI Varro yang unlimiter kan murah. Jangan-jangan, Varro itu sebenarnya CDI tempo dulu yang analog? Itu langsung ditangkis Tomas, katanya CDI Varro tergantung peruntukannya.

Maksudnya kalau yang untuk motor lama, CDI Varro menganut analog. “Tapi untuk motor baru, tentunya sudah digital semua. Sebab CDI Varro juga mengutamakan kualitas,” jelas Tomas yang bermarkas di Cibinong, Bogor, Jawa Barat itu.

Diposting oleh otomotif | 22.22

Pasang Undertail Bikin Pantat Seksi


OTOMOTIFNET - Pastinya undertail alias buntut kolong tetap seksi di 2009. Yang namanya seksi, mata lawan jenis bisa dipikat. Bahkan, penunggang besi lain pun bisa nyungsep kalau lihat motor ente besi pakai undertail yang suit-suiiiittt.

Untuk tampil seksi seperti Mulan Jamela taunya di pasaran sudah banyak beredar buntut ngolong. Dari sekian undertail ada yang menawarkan kemudahaan waktu pemasangan. “Pilih yang lubang bautnya nggak retak waktu dikencangkan. Ini sudah menyangkut formula fiber yang dipakai,” beber Andre Irwan dari Chemonk Modified (CM), Jakarta Barat.

CM bukan cuma bengkel modifikasi bodi, tapi produsen spesialis undertail buat Kawasaki Ninja, Honda Tiger, Suzuki Satria F-150, dan Yamaha V-ixion. Produknya sudah sampai diekspor ke Malaysia.

Ada lagi yang mesti diperhatikan saat pemasangan. Ambil contoh aplikasi undertail di Ninja. Prinsipnya bisa dipakai di Satria F-150 atau Honda Tiger. “Simpel banget. Lepas dulu kedok lampu dan sepatbor belakang,” bilang Andre yang bermarkas di Jl. Ashirot, Jakarta Barat.

Sebelum dikencangkan, lubang baut undertail mesti dipaskan ke dudukan baut yang sudah ada. Berikut juga, bohlam sein kanan-kiri dan rem belakang sudah dimasukkan ke dudukan lampu undertail.

Tinggal pasang bautnya. Satu per satu putar baut, tapi jangan sampai terlalu kencang. Kalau langsung dikencangkan cuma 1 atau dua baut, posisi baut bergeser dari lubangnya. Nah, setelah pas baru deh dikencangkan kembali.

Diposting oleh otomotif | 22.20

Komparasi
Honda Blade 110R VS Yamaha Vega ZR


OTOMOTIFNET - Mengadu Honda Blade 110R dan Yamaha Vega ZR pasti jadi bahasan menarik. Pertama, karena keduanya masih masuk kelas bebek di bawah 125cc. Bahkan selisih kapasitas mesin keduanya tak sampai 5cc, tentunya performa hanya beda tipis. Alasan lain, keduanya dilaunching bersamaan. Maka tak heran bila hingga hari ini kedua motor ini masih jadi bahan perbandingan banyak pihak. Jadi sangat sah dan pasti dinantikan bila OTOMOTIFNET mengajak kedua motor ini untuk bertanding satu lawan satu (head to head).

Pada komparasi ini masih menggunakan bintang sebagai penilaian dengan melihat dari 6 variable seperti yang dilakukan pada sesi test ride (Yamaha Vega ZR dan Honda Blade 110). Tapi jangan heran bila pada komparasi ini jumlah bintangnya sedikit berbeda dengan yang ditemui pada sesi test ride, karena di sini kedua motor langsung diadu head to head. Bukan beraksi sendiri-sendiri. Agar lebih mendalam, penilaian masih dilanjutkan dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang jadi pertimbangan konsumen saat memilih sepeda motor (berdasarkan hasil riset redaksi).

Harga
Honda Blade 110R : ***** (5 bintang)
Yamaha Vega ZR : ***** (5 bintang)
Honda Blade 110R dijual pada harga Rp 13,5 juta sedang Yamaha Vega ZR hanya Rp 12 juta. Honda Blade 110R jauh lebih mahal? Enggak dong, mari lihat lebih jauh lagi. Honda Blade 110R dengan harga yang lebih mahal Rp 1,5 jutaan, dapat pelek cast wheel dan beberapa fitur seperti panel indikator di speedometer yang lebih lengkap.

Selain itu konsumen juga langsung dapat fitur-fitur kecil seperti tuas cuk di stang dan juga key shutter berpengaman yang absen pada Yamaha Vega ZR. Sedang Vega ZR yang memang dibuat untuk pasar low end ini sengaja disetting murah. Tapi jangan salah kalau, Vega ZR dipasang fitur yang sama dengan Honda Blade 110R bisa jadi sama mahalnya. Untuk pelek cast wheel saja sudah selisih Rp 1 jutaan.

Tapi bila dilihat sesuai segmentasi pasarnya masing-masing, harga kedua bebek ini masih masuk akal. Dengan segala keunggulan fiturnya, Honda Blade 110R masih tidak terlalu mahal. Sedang Yamaha Vega ZR memberikan desain dan mesin baru untuk konsumen low end juga dengan harga yang masih sangat terjangkau. Tak salah bila angka sempurna diberikan untuk kedua motor ini.

Desain
Honda Blade 110R : ***** (5 bintang)
Yamaha Vega ZR : *** (3 bintang)
Banyak komentar ketika pertama kali melihat langsung menilai desain Yamaha Vega ZR terlalu kaku. Boleh dibilang kurang mengikuti trend desain masa kini. Sekilas sangat mirip dengan pendahulunya, Vega R. Satu-satunya inovasi bisa dilihat pada desain lampu sein yang menyatu sayap. Tapi desain lampu sein ini juga bukan style baru karena sudah banyak diaplikasikan oleh bebek lainnya. Jadi wajar bila OTOMOTIFNET memberikan tiga bintang untuk sektor penampilan.

Sedang pada Honda Blade 110R aura moge sport Honda CBR 1000RR Fire Blade begitu menonjol pada desain sayap yang ramping dan terbelah dua bagian atas dan bawah. Desain sayap ini juga memudahkan saat melakukan service ringan karena hanya dengan membuka satu panel bodi sudah bisa menjangkau karburator, air fiter dan silinder head.

Selain itu, pilihan corak warna dan striping lebih bervariasi. Belum lagi aplikasi desain muffler oval juga menjadi daya tarik tersendiri dan makin menguatkan pendirian OTOMOTIFNET untuk memberikan penilaian penuh lima bintang di sektor desain.

Fitur & Teknologi
Honda Blade 110R : **** (4 bintang)
Yamaha Vega ZR : *** (3 bintang)
Mesin baru Honda Blade 110R cukup mengejutkan karena mengusung mesin NF110ST yang benar-benar baru dengan kapasitas mesin 109,1cc. Teknologi rocker arm yang dilengkapi roller dan dinding piston yang dilengkapi banyak lubang sebagai jalur pelumasan digunakan pada mesin yang kabarnya menjadi calon pengganti C100 series ini. Fitur tambahan yang tak kalah menarik yaitu aplikasi pengaman kunci (key shutter). Empat bintang cukup untuk menilai fitur dan teknologi Blade 110R.

Meski menggunakan mesin yang juga baru, namun pada Vega ZR ada beberapa fitur yang absen. Seperti pelek cast wheel dan panel indikator posisi gigi. Tuas cuk yang biasanya berada di stang kini tidak ada. Tampilan kunci kontak juga polos tanpa pengaman. Bahkan teknologi mesin Yamaha seperti Diasil dan roller rocker arm tidak diadopsi. Rasanya tiga bintang cukup untuk Yamaha Vega ZR.

Performa
Honda Blade 110R : *** (3 bintang)
Yamaha Vega ZR : **** (4 bintang)
Di sesi test performa kedua motor ini terjawab rasa penasaran OTOMOTIFNET. Perbedaan kapasitas mesin yang hanya 5cc tak begitu terasa signifikan. Tapi ketika OTOMOTIFNET menggunakan alat ukur racelogic untuk mendapatkan data performa kedua motor ini, Vega ZR menang tipis (lihat hasil tes).

Karakter keduanya pun sedikit berbeda. Mencoba di trek sepanjang 1,5 km, OTOMOTIFNET yang berbobot 65 kg merasakan hentakan tenaga di tiap gigi yang terasa halus. Tidak terlalu menyentak namun cukup merata pada Yamaha Vega ZR. Top speed untuk trek sepanjang itu menyentuh angka 105 km/jam lebih sedikit.

Sedang pada Honda Balde 110R, gigi 1 dan 2 nya lebih galak. Kalau hanya untuk beraksi stop and go, terasa sangat bertenaga. Tapi seperti yang telah di terangkan pada tulisan first ride, putaran atasnya terlalu panjang dan terasa lemas (gigi 3 ke 4). Top speed di trek sepanjang 1,5 km pun hanya mentok di angka 98km/jam. Dengan hasil skor 4 - 3 cukuplah untuk kedua motor baru ini.

Data pengetesan Yamaha Vega ZR:

0-60 meter = 6,5 detik
0-100 meter = 8,7 detik
0-201 meter = 13,7 detik
0-402 meter = 22,9 detik

0-60km/jam = 6,8 detik
0-80km/jam = 14 detik
0-100km/jam = N/A

Data pengetesan Honda Blade 110R:
0-60 meter = 6,7 detik
0-100 meter = 9 detik
0-201 meter = 13,8 detik
0-402 meter = 22,5 detik

0-60 km/jam = 7 detik
0-80 km/jam = 14,1 detik
0-100 km/jam = N/A


Konsumsi Bahan Bakar
Honda Blade 110R : **** (4 bintang)
Yamaha Vega ZR : **** (4 bintang)
Dengan seorang tester yang bobotnya tak lebih dari 65 kg, Yamaha Vega ZR mampu berlari sejauh 47 km dengan satu liter bensin. Konsumsi bahan bakar tersebut didapat dengan kecepatan tak lebih dari 60km/jam. Begitu juga dengan Honda Blade 110R dengan rute yang sama, Honda Blade 110R tercatat sedikit lebih irit dengan satu liter bensin mampu menempuh jarak sejauh 49,5 km.

Namun perlu diingat meski menempuh jarak dan rute yang sama namun kondisi traffic saat keduanya dilepas tentunya memiliki sedikit perbedaan. Meski pengetesan telah dilakukan pada malam hari (diatas pukul 11 malam) demi memperoleh kondisi jalan yang relatif sepi. Karena thasilnya ak jauh berbeda dan belum tembus diatas 50 km/liter (pertimbangan redaksi, bebek <125cc>

Handling
Honda Blade 110R : ***** (5 bintang)
Yamaha Vega ZR : **** (4 bintang)
Secara keseluruhan OTOMOTIFNET harus mengakui kalau kedua motor ini sama lincahnya. Namun tentunya tetap ada perbedaan. Sumbu roda Vega ZR yang lebih panjang membuatnya sedikit kalah lincah kala benar-benar berada pada kondisi lalu lintas yang macet. Berbeda dengan Honda Blade 110R yang begitu mudah menggerakan bodi motor. Saat keduanya kami coba menikung tajam pada kecepatan tinggi, Blade lebih nyaman.

Dan sebaliknya pada kecepatan tinggi melibas trek lurus, Yamaha Vega ZR sedikit lebih tenang. Secara keseluruhan dan mempertimbangkan kondisi jalanan serta habit orang Indonesia yang rata-rata hanya berkendara tak lebih 60km/jam, handling Honda Blade 110R tetap lebih unggul. Bintang 5 untuk Honda Blade dan bintang 4 untuk Yamaha Vega ZR.

Hasil Komparasi :

Lantas siapa juaranya? Apakah cukup dilihat dari hasil perolehan bintang? Tentunya tidak. Pada setiap komparasi motor atau mobil, OTOMOTIFNET menerapkan sistem point berdasarkan beberapa faktor pertimbangan ketika konsumen memilih sepeda motor. Cara ini diharapkan akan memberikan hasil akhir penilaian yang lebih mendalam.

Dari hasil riset internal redaksi OTOMOTIFNET diperoleh urutan pertimbangan rata-rata konsumen ketika membeli motor. Pertama adalah pertimbangan harga, lalu desain, fitur dan teknologi, performa, konsumsi, dan yang paling terakhir adalah pertimbangan handling. Tiap faktor ini memiliki point dari 6 sampai 1 dari faktor tertinggi yaitu harga sampai faktor terendah, handling. Point tiap faktor ini dikalikan dengan jumlah bintang yang didapat dari hasil pengetesan untuk mendapatkan total poin yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan pertimbangan konsumen saat membeli motor.

Yamaha Vega ZR Honda Blade 110R
1. Harga (6 poin) 6 x 5* = 30 6 x 5* = 30
2. Desain (5 poin) 5 x 3* = 15 5 x 5* = 29
3. Fitur dan Teknologi (4 poin) 4 x 3* = 12 4 x 4* = 16
4. Performa (3 poin) 3 x 4* = 12 3 x 3* = 9
5. Konsumsi bahan bakar (2 poin) 2 x 4* = 8 2 x 4* = 8
6. Handling (1 poin) 1 x 4* = 4 1 x 5* = 5
Total nilai
= 81 = 93
















* = jumlah bintang hasil komparasi

For Your Information (FYI):

Honda Blade 110R
- Warning buat rider pemula: jangan kaget bila akselerasi Honda Blade 110R terlalu galak di putaran bawah, selongsong gas diputar sedikit saja bisa tersentak. Sebaiknya lebih berhati-hati mempelajari karakternya.
- Begitu juga dengan handling-nya. Karena memiliki sumbu roda yang pendek dan sudut rake yang cukup tegak membuat handling Honda Blade 110R sangat agresif.
- Jangan berharap bisa dengan mudah “ngoprek” motor ini biar larinya lebih kencang. Karena ketersediaan racing partnya masih sangat minim.
- Banyak mekanik balap yang menilai sistem kopling matahari / diapraghma yang dipakai Honda Blade 110R justru jadi kekurangan. Kalau mau turun balap sebaiknya ganti dengan sistem pegas yang lebih kuat.
- "Desain ala big bike yang diaplikasikan pada Honda Blade 110R adalah awal dari desain moped motor bebek Honda di masa depan,” kata Kiyotaka Fujihara, chief engineer Honda Blade 110R.

Yamaha Vega ZR
- Meski memiliki ukuran bore dan stroke yang sama dengan Mio (50mmx57,7mm), tapi tidak ada satu pun part yang bisa saling di subtitusikan diantara kedua motor ini.
-Jadi jangan berharap bisa menggunakan racing part Mio atau Jupiter Z untuk Vega ZR karena tidak ada yang sama.
- Kapasitas mesin bersih Vega ZR hanya 113,7cc. Artinya hanya berbeda 3,4 cc dari Vega R yang kapasitas mesinnya murni 110,3cc
- Sistem kopling matahari / diapraghma seperti Honda Blade 110R dipilih untuk menekan cost produksi tanpa mengurangi performa. Kurang bagus buat balap.
- Pihak Yamaha mengakui generasi Vega R dan Vega ZR ini adalah bukti bahwa Yamaha mampu membuat motor yang tidak hanya kencang tapi tetap irit.

Diposting oleh otomotif | 20.57

bengkel resmi ATPM Hyundai&Toyota bikin kejutan


OTOMOTIFNET - Bengkel resmi di bawah payung PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI) mengadakan Hyundai Happy Holiday Campaign dengan berbagai program servis. Kejutan menarik bagi pemilik Hyundai itu antara lain diskon spare part hingga 20%.

Semisal busi, kabel busi, filter oli, saringan udara, dan filter bensin. Selain itu juga ada potongan biaya jasa serta genuine material sebesar 10%.

Menurut Agus Susanto, area mana­ger IHMI, menyebut bahwa program diskon servis ini berlaku untuk semua varian Hyundai serta bersifat nasional.

Artinya, di kota manapun yang terdapat bengkel resmi Hyundai bisa dicoba menu ‘paket hemat’ tersebut. Ilustrasi potongan harga itu seperti shock absorber Atoz depan yang awalnya Rp 1,234 juta, kini hanya Rp 987.200. Artinya, sudah terpangkas 20%.

Selain itu juga ada paket diskon 15% untuk kopling set Atoz dari Rp 731 ribu menjadi Rp 621.350. Program kejutan ini hanya berlaku hingga 15 Januari tahun ini.

Selain itu, Auto2000 juga menggelar program kejutan untuk kendaraan yang dibeli pada tahun 2007 dan 2008 bisa mendapatkan ongkos jasa servis gratis hingga jarak kendaraan mencapai 30 ribu km. Artinya, untuk pembeli­an mobil pada tahun 2007 akan berakhir masa ‘kejutan’ ini hingga akhir Desember 2009.

Sedangkan untuk yang membelinya tahun kemarin berakhir pada akhir Juni 2010. Sementara itu untuk masyarakat yang membeli mobil pada tahun ini bisa mendapatkan biaya jasa servis gratis hingga mencapai 50 ribu km. Menarik bukan?